Selasa, 30 April 2013

Etika Ekonomi dan Bisnis Menurut Perspektif Etika Kristen




Pendahuluan
Etika Kristen adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita sebagai umat Kristen dalam berperilaku dalam dunia ini.  Etika adalah ilmu tentang asas atau dasar-dasar moralitas dan ahlak hidup manusia, sedangkan secara teologis Etika Kristen tentunya berbicara tentang hubungan dengan Tuhan. Berbicara sedikit lebih jauh tentang etika Kristen tentunya tidak hanya sekedar berbicara mengenai atau menyangkut adat, lingkungan atau kebudayaan, melainkan juga menyangkut kebenaran yang hakiki tentang nilai-nilai moralitas Kristiani. Apa yang mau kami katakana ialah, dalam segala aspek, sikap hidup Kristen memiliki konsep etika dalam menjalankan hidupnya ditengah dunia ini sebagai manifestasi Kerajaan Allah. Demikianlah ketika kita membicarakan tentang bisnis dalam pandangan etika Kristen, berarti prinsip-prinsip Alkitabiah harus diterapkan di dalam menjalankan bisnis tersebut. Namun, seringkali orang akan menemukan pertentangan-pertentangan ketika ia akan menerapkan firman Tuhan dalam bisnisnya. Karena tujuan dari pada bisnis adalah meraih keuntungan sebesar-besarnya. Dan dalam usaha untuk mendapatkan keuntungan terbesar, maka muncullah berbagai macam motif dan metode yang berbeda-beda.
1.    
  Etika Kristen dan Ekonomi ( Bisnis)
Berbicara tentang etika Kristen yang dikaitkan dengan dunia ekonomi, teori-teori ekonomi seperti yang dikemukakan kelompok sebelumnya maka pada tulisan kami ini kita tentunya berusaha untuk menjelaskan dan mencari serta menemukan kebenaran-kebenaran Ilahi yang terkait dengan ekonomi, bisnis, serta perilaku didalamnya. Kepantasan dan ketidakpantasan dalam berbisnis serta sebagai pelaku ekonomi tentu merupakan sebuah unsur yang harus ditemukan didalam etika Kristen tentang Ekonomi.

a.      Etika Kristen
Myron Ruth dalam bukunya “Lord of The Market Place” berbicara tentang Tuhan sebagai Businessmen” Tuhan Bernicara tentang penanaman biji dan penuaian ( Kej. 8 :22 ). Tuhan juga berbicara tentang penggajian ( Yak. 5:4) dan lain-lainnya.[1] Pada mulanya Tuhan juga telah memberikan tanggung jawab kepada manusia untuk mengolah dunia ini, yang tentunya itu juga merupakan praktik ekonomi (bdk. Kej. 1 :28 ). Dengan pemaparan tersebut bisa kita tarik sebuah kesimpulan bahwa, apapun yang kita lakukan atau kerjakan didalam dunia ini—termasuk ekonomi atau bisnis harus kita pertanggungjawabkan dihadapan Tuhan. Semua harus kita arahkan bagi kesejahteraan manusia, yang merefleksikan gambar Allah. Rasul Paulus menegaskan bahwa apapun yang dikerjakan harus dilakukan seperti untuk Tuhan ( Kol 3 : 23 ). Pola hidup yang dikehendaki adalah suatu kehidupan yang tidak mementingkan diri sendiri. Sebab itu sikap hidup yang egoistis adalah pertentangan terhadap karakteristik etika Kristen.

b.      Ekonomi (Bisnis)
Dalam tindakan ekonomi yang dalam salah satu prakteknya adalah kegiatan bisnis umumnya dan pada dasarnya mencakup kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi suatu barang dan jasa. Sebab itu seorang pelaku ekonomi-dalam hal ini adalah bisnis pasti masuk dalam pertanyaan jenis apa bisnis yang dijalankan.[2] Dalam hal itu seorang pelaku ekonomi sudah diperhadapkan pada suatu keputusan yang memiliki nilai etis. Seorang Kristen menghadapi alternative yang demikian harus dibimbing oleh kebenaran Ilahi, disinIah etika Kristen itu terlihat. Ketika seorang pelaku ekonomi atau bisnis bertanya manakah pilihan yang dapat mengantarkan manusia pada kebaikan. Dengan demikian berarti dapat dilihat bahwa Ekonomi dalam praktiknya tidak berjalan semakin mudah dan mulus, akan banyak situasi yang akan dihadapi. Dengan melihat semua itu maka tercetuslah teori-teori ekonomi dari beberapa tokoh Kristen yang tentunya mereka ungkapkan dengan melihat nilai-nilai Etika Kristen itu sendiri.  Berikut adalah paparan mengenai Teeori-teori Ekonomi dalam persfektif serta hubungannya dengan iman Kristen.
A.    Teori-Teori Hubungan Ekonomi dan Agama Dalam Persfektif Iman Kristen Menurut Tokoh-Tohoh

1.      Eka Darmaputera
Dalam pemikirannya Eka Darmaputera berangkat dari kesaksian Alkitab bahwa Allah mempercayakan keutuhan ciptaan kepada manusia, atau ia sebut menatalayani alam ciptaan (Kej. 1:28). Ia menegaskan bahwa dari sinilah Israel selalu merasa dan memahami diri mereka sebagai petugas, pekerja dan bukan pemilik atau penguasa. Itulah sebabnya mereka di negeri mereka sendiripun mereka merasa sebagai orang asing dan pengembara, ini bukan berarti mengurangi tanggung jawab mereka, namun karena percaya pada akhirnya negeri mereka adalah milik Allah dan bukan milik mereka ( Im 25 : 23). Jadi apapun yang mereka lakukan mereka harus mempertanggung jawabkannya kepada Allah. Dengan kesadaran bahwa semuanya milik Allah, dan kita harus menyisihkan kembali kepada Allah setiap hasil “oikosnomos” yang kita lakukan, maka Eka Darmaputera berangkat dari beberapa pemikirannya diatas mengemukakan pendapatnya tentang ekonomi, yakni :
Ø  Pembangunan Ekonomi Bukanlah Tujuan Akhir Dari Dirinya, melainkan untuk mencapai tujuan yang lain diluar dirinya.
Pengakuan bahwa Allah sajalah pencipta, pemilik dan pemerintah segala sesuatu, brarti tak ada satu sektorpun dari manusia yang terlepas dari Allah dan mempunyai otonomi yang bebas terhadap dirinya sendiri. Pernyataan ini menolak klaim bahwa ekonomi/bisnis adalah sektor kehidupan manusiawi yang seluruhnya merupakan tujuan akhir pada dirinya dan hanya dikuasai oleh mekanisme-mekanisme dan hukumnya sendiri. Dalam hal ini ekonomi dan bisnis merupakan suatu sektor yang sah didalam kehidupan, yang keterkaitannya dengan sektor-sektor kehidupan lainnya dimaksudkan untuk melayani dan mewujudkan kehendak serta rencana penciptaan yang dilakukan Allah.[3] Apa yang menjadi kehendak Allah itu ? ialah kemuliaan Allah dan kesejahteraan seluruh ciptaan. Dengan begitu maka tingkah laku dan kegiatan ekonomi harus diarahkan dan ditujukan pada tujuan yang lebih luas dan agung itu yakni kemuliaan Allah dan kesejahtreraan setiap ciptaan.

Ø  Pembangunan Ekonomi tidak berdiri sendiri
Pembangunan Ekonomi dalam kehidupan manusia tidak berdiri sendiri, melainkan salah satu komponen dari bagian yang menyeluruh. Ia tidak kurang penting, tetapi tidak lebih penting dari pembangunan sektor-sektor kehidupan manusia lainnya.[4]  Secara teologis kita harus katakana bahwa kehidupan itu utuh. Ia memang bisa terpilah-pilah namun tidak mungkin terpisah-pisah. Yang harus dikatakan ialah, Allah menciptakan manusia sebagai mahluk yang terhormat dan mengasihinya. Penderitaan tidak termasuk dalam Tata Penciptaan. Namun ketika penderitaan muncul sebagai akibat dari dosa, kasih Allah dinyatakan melalui solidaritas : Allah menghadirkan diri sebagai hamba yang menderita, untuk menyelamatkan dan membebaskan manusia dari belenggu penderitaan itu serta mengundang manusia sebagai mitra guna mendatangkan kerajaan Shalom bagi seluruh ciptaan. Implikasi praktis dari keyakinan teologis seperti itu ialah bahwa, ekonomi adalah komponben yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Tujuan ekonomi yang khas yakni kesejahteraan serta keuntungan material tidak membuat ekonomi menjadi kurang luhur. Sebab yang materialpun adalah ciptaan Allah yang baik.
Kerajaan Shalom yang dijanjikan juga tidak bersifat sfiritual semata-mata.sebab shalom berarti kehidupan yang utuh dan lengkap : sfiritual dan material. Membangun tanda-tanda shalom juga menyangkut pembangunan ekonomi dalam kehidupan. Namun kembali di ingatkan bahwa, ekonomi tidaklah satu-satunya dan bukanlahlah segala-galanya, ia dalah satu bagioan dari kehidupan manusia yang utuh itu. ia tidak kurang penting dari yang lainnya.
            Demikian pemikiran Eka Darmaputera tentang ekonomi secara teologis dan dihubungkannya dengan nilai-nilai sosial kehidupan manusia. Ekonomi penting bahkan sangat penting, namun bukanlah satu-satunya dan segala-galanya didalam kehidupan manusia karena ekonomi merupakan salah satu dari komponen-komponen manusia yang utuh.

2.      Arya Wicaksana Darmaputera

Ø  Fith & Trust : Pertemuan Ekonomi Dan Agama
Dalam pemikirannya ia lebih dahulu memulai kepada pertemuan antara Ekonomi dan Agama. Pada permulaan teorinya tentang ekonomi, Arya melihat bahwa ekonomi dan agama semuanyua didasari kepercayaan. Menurutnya,  Agama adalah institusi manusiawi yang terinspirasi oleh iman. Iman dan kepercayaan menjadi agama, ketika iman dan kepercayaan distrukturkan, dibahasakan dan dibuat dogmatikanya.[5] Pasar adalah institusi manusiawi yang didasarkan pada kepercayaan (trust). Tanpa kepercayaan tidak ada sistem ekonomi. Agama bisa berkembang besar, hebat dan cemerlang. Demikian juga ekonomi. [6]
Ø  Iman Kristen dan Pembangunan Ekonomi
Menurut Arya, pembangunan ekonomi ialah seperti kisah lima roti dan dua ikan. Dengan sumber daya yang terbatas, masyarakat mempercayakan pengelolaannya kepada pemimpin yang dipercaya dan cakap. Dan jadilah hasil yang berlipat ganda, sehingga membawa kemakmuran bagi semua. Tetapi proses pembangunan ekonomi tidak semudah itu. Masyarakat dan institusi-institusi manusiawi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menciptakan kemakmuran dari kemiskinan dan kekurangan. Seorang yang profesional, cakap, bijaksana dan dihargai adalah kriteria orang yang mampu untuk memberikan kemajuan ekonomi. Dalam hal ini kedekatan Yesus Kristus dengan kaum-kaum yang lemah dan tersisih telah menimbulkan kedekatan. Saling membantu dalam sistem sosial (seperti cerita Zakeus ketika bertobat) meninimbulkan efek positif membangun kepercayaan yang tentunya berlipat ganda efeknya dalam membangun suatu ekonomi. Iman Kristen seperti yang dinarasikan diatas mendorong para pemimpin untuk mengikuti teladan Kristus, karena kepemimpinan dengan gaya seperti itu membuahkan kepercayaan dan kebersamaan didalam masyarakat yang dipimpinnya, ini adalah landasan kondusif bagi pembangunan ekonomi. Bagi yang menjadi rakyat, juga ditunjukkan oleh Tuhan Yesus melalui ucapanNya :”Berikan kepada Kaisar, apa yang yajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan Allah” ( Mat 22 : 21). Sikap yang patuh pada pemimpin, tetapi tidak menurut saja kepada kekeliruan-kekeliruan yang ada.
Pelajaran yang diberikan oleh Arya berpuncak pada pernyataannya dibagian akhir teorinya, yaitu bahwa : pelajaran agama maupun sejarah telah membuktikan bahwa apa yang akan dituai, itu adalah hal yang telah ditabur. Bila yang ditabur adalah rasa ketidakpercayaan, cemburu serta rasa benci, itulah yang akan didapatkan kemudian. Demikian dalam pembangunan ekonomi, bila yang ditabur adalah tipuan, korupsi, kolusi, arogansi serta egoism maka sistem pembangunan ekonomi itu sendiri akan kacau. Itu disebabkan oleh kepercayaan (trust) yang menjadi kekuatan fundamental sistem ekonomi itu akan menjadi rapuh. Pelajaran dan keteladana terhadap Kristus akan menjadi kekuatan untuk bisa membangun sistem ekonomi yang tinggi.[7]
3.      Yakub B. Subsada[8]
Ada dua hal yang menjadi pandangan utama Yakub tentang Etika iman Kristen dalam hubungannya dengan etika ekonomi atau bisnis berikut adalah pemaparannya yang muncul ketika terjadi krisis moneter di Indonesia pada masa Orde Baru, dimana ketika itu muncul sebuah pertanyaan yang cukup krusial yakni “Apakah Iman Kristen mempunyai sesuatu yang dapat disumbangkan sebagai sarana penyelesaian kemelut moneter dan ekonomi di Indonesia”? Untuk itu Yakub membahasnya dalam dua tahapan yakni :
Ø  Memahami dan Menghayati Prinsip-prinsip Utama Etika Iman Kristen
Prinsip umum Etika memang adalah buatan manusia dan lahir dari kesadaran hati nurani manusia yang secara ontologis memiliki kemiripan antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan berkembangnya sejarah kehidupan bermasyarakat, prinsip-prinsip umum etika ini telah berkembang yang semakin lama semakin lengkap dan hamper menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Sehingga kemudian ada banyak etika-etika yang muncul termasuk didalamnya ada etika ekonomi-bisnis juga muncul disansa. Dalam hal inilah muncul pertanyaan, apakah prinsip-prinsip umum dalam etika bisnis cukup sesuai dengan kebutuhan sekarang ini ? Bagi Yakub, sebagai seorang yang mengimani keunikan dan kelebihan iman Kristen, pertanyaan tersebut akan dijawab dengan tegas ‘Tidak’! mengapa ?
a.       Iman Kristen percaya bahwa pada prinsipnya etika bukan hanya masalah antara manusia dengan sesamanya saja. Etika adalah manifestasi atau buah dari hubungan antara orang percaya dengan Allahnya. Bagi iman Kristen, keselamatan dalam Kristus adalah alasan mengapa seseorang beretika. Alkitab menegaskan bagaimanapun baiknya yang menjadi buah natur manusia tidak mempunyai nilai-nilai kekekalan pada dirinya sendiri ( 1 Kor 15 : 50). Jadi oleh karena itu Kristen harus menjadi manifestasi pengalaman orang percaya dalam keselamatannya.
b.      Iman Kristen mengamini bahwa etika Kristen adalah manifestasi kehadiran Kerajaan Allah dibumi. Etika Kristen bukan hadir untuk menjadi salah satu dari puluhan jenis etika yang ditawarkan manusia. Etika Kristen bukanlah etika yang berorientasi pada perbuatan baik yang orang Kristen dapat sumbangkan kepada kehidupan umat manusia didunia ini. Etika Kristen hadir sebagai kehadiran sejarah prima yang diciptakan Allah sendiri. Melalui dan didalam etika Kristen tersebut Allah berkarya memperdamaikan seluruh ciptaan dengan diri-Nya sendiri. Oleh karena itu tidak seharusnya etika Kristen lahir dari nafsu dan keinginan orang-orang Kristen untuk membuktikan kelebihannya. Orang-orang Kristen hanyalah alat yang dikuduskan ditangan Allah, dan etika Kristen adalah manifestasi dari karya Allah itu melalui mereka.
Ø  Hubungan Integratif Antara Prinsip-Prinsip Utama Etika Kristen Dengan Ekonomi/Bisnis
Hidup ditengah pluralisme agama dan masyarakat di Indonesia menempatkan umat Kristen harus ikut terlibat dalam setiap bidang kehidupan, seolah-olah dunia menuntut dan mempertanyakan peran kristiani dalam setiap aspek kehidupan bernegara ini dan umat Kristen harus menjawabnya tentu saja menjawab pula pertanyaan yang muncul diantaranya “ Apakah sumbangsih umat Kristen dalam etika ekonomi atau bisnis ? untuk itu Yakub merekomendasikan beberapa prinsip Etika Kristen yang bisa diterapkan dalam etika ekonomi dan bisnis, yang antara lain adalah sebagai berikut :
a.       Sesuai dengan kehendak Allah yang menyukai keteraturan ( 1 Kor. 14 :32-33)
Umat Krsten harus menciptakan komunikasi dialogis dan keseimbangan antara kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah dengan kebutuhan ekonomi rakyat. Dalam kondisi carut-marut serta maraknya KKN pada masa Orde Baru menuntut peran etika bisnis umat Kristen untuk memperlihatkan diri dalam konteks yang demikian.
b.      Menciptakan Budaya “Yusuf” dalam jiwa setiap anak Tuhan
n  Yusuf berada ditengah dunia tetapi tidak terkontaminasi oleh dunia. Yusuf tidak pernah menjadi korban dari sistem meskipun ia dipaksa untuk menjadi seperti itu. ia menjadi pencipta sistem yang baik setelah lolos dari sistem-sistem buruk yang melanda dia sebelumnya. Dimana ia berada Yusuf selalu menjadi berkat.
n  Yusuf adalah “man of self-content” yang selalu merasa cukup dengan apa yang Tuhan berikan kepadanya. ia bukan budak nafsu kedagingannya, ia juga bukan budak hak asasinya sendiri. Ia mampu mengampuni bahkan memakai persfektif Ilahi untuk menafsirkan kejahatan keluarga-keluarganya ( Kej. 42 :15, 43 :30). Hidupnya untuk mengabdi kepada sesama manusia.
Budaya “Yusuf” tersebut adalah budaya etika Kristen. Penggambaran diri yang selalu menurut persfektif tentang Allah. Yusuf selalu membangun nilai-nilai keilahian dalam tindakannya. Tidak pernah memakai kesempatan kedudukannya untuk keluarganya sendiri. Dalam ekonomi, Yusuf juga mengaturnya berdasarkan prinsip-prinsip keilahian, dan itu merepukan refleksi yang dapat diikuti pelaku-pelaku bisnis masa kini. Kelaparan melanda seluruh kawasan peradaban pada waktu itu. Suku-suku bangsa dari penjuru bumi datang ke Mesir—kepada Yusuf untuk mencari bahan makanan. Yusuf tidak memberikan harga yang selangit walaupun orang-orang sangat bergantung kepadanya. itulah etika bisnis Kristen yang sesungguhnya.

Mungkin banyak teori-teori Etika Ekonomi menurut persfektif Kristen yang belum dipaparkan dalam tulisan ini, namun kami merasa beberapa tokoh dan teori-teori mereka bisa untuk membantu kita memahami apa pandangan Kristen tentang ekonomi dan bisnis itu sendiri.
B.     Tinjauan Etis
Secara umum etika berbicara tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik, apa yang boleh dan yang tidak boleh, apa yang normal diterima dimasyarakat dan yang tidak normal. Etika sangat terkait dengan sistem nilai yang dianut dan hidup dalam masyarakat, dan nilai yang lain seperti nilai-nilai dalam ajaran agama. Etika ekonomi menurut persfektif etika iman Kristen yang dimunculkan dalam teori-teori tokoh-tokoh diatas adalah bagian dari keinginan mereka untuk mengatur tatanan ekonomi masyarakat, supaya bisa terbangun dalam kultus yang Alkitabiah, memiliki bahkan berdasar atas nilai kei-Ilahian. Dan memperjuangkan kesetaraan dan kesejahteraan masyarakat didalamnya. Eka Darmaputera misalnya, ia berangkat dari konsep Allah yang memandatkan penatalayanan keutuhan ciptaan kepada manusia dimana teori ekonominya menekankan bahwa ekonomi bukan segala-galanya sehingga melupakan yang lain, tetapi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri. Tetapi perlu kajian apakah tindakan ekonomi atau bisnis yang kita lakukan itu akan mendatangkan shalom atau sebaliknya.  Secara deontologis ini berdasar bahwa sudah seharusnya manusia, dalam kehidupan termasuk sebagai pelaku ekonomi dan bisnis harus meperhatikan kesejahteraan ciptaan yang lain. Tidak menguras maupun mengekploitasi alam, tidak boleh menipu sesama manusia. Kesejahteraan semua dengan membangun tanda-tanda shalom di dunia melalui ekonomi juga secara tersirat memperjuangkan hak-hak asasi manusia. Itu semua memiliki perlindungan yang kuat secara hukum maupun secara Agama. Sebab dari sudut pandang iman Kristen , keharusan untuk memperhatikan aspek-aspek HAM. Motivasi dan tujuan dari teori ini sudah cukup jelas ingin memberikan penyadaran kepada pelaku ekonomi agar kesejahteraan bersama adalah tujuan yang mesti dicapai. Munculnya teori-teori ini sangat membantu kita semua untuk bisa belajar menjadi pelaku ekonomi yang bersahabat dengan lingkungan ( alam dan mahluk hidup lainnya), dan sesama manusia. Walaupun mungkin pada kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk, teori-teori tersebut mengalami tantangan bahkan kesulitan dalam penerapannya.
C.    Refleksi Teologis
Ada kesamaan antara sikap dan ajaran Yesus dengan prinsip-prinsip ekonomi yang telah diparkan diatasi. Bila Yesus mengajarkan para pengikut-Nya untuk tidak kehilangan kesukaan hidup karena harta (Luk. 6:24-25;18:24-25) dan mendorong hidup yang murah hati (Luk. 18:22), itu disebabkan Yesus menerima ajaran Taurat tentang kepemilikan mutlak Allah atas harta dan tanggung jawab penatalayanan manusia atas hartanya. Namun yang luar biasa ialah Yesus menyatakan bahwa di dalam diri-Nya, yaitu hidup, ajaran dan karya-karya-Nya seluruh maksud Allah dan segala kuasa di langit dan di bumi bertumpu dan beroperasi, mewujudkan Ekonomi Allah dalam penciptaan suatu umat baru. Umat Perjanjian Baru itu adalah bagian dari Kerajaan Allah, orang- orang yang menikmati berlakunya pemerintahan Allah yang memerdekakan, yang membuat mereka menikmati hidup seutuhnya sepenuhnya, mensyukuri setiap pemberian Allah dalam sikap murah hati, menatalayan, dan karena itu tidak terikat melainkan merdeka. Di dalam Yesus, Ekonomi Allah memungkinkan ekonomi manusia tidak menjadi perhambaan materi, pemberhalaan hartabenda, perbudakan keserakahan, melainkan merdeka penuh syukur, kesemarakan yang saling menumbuhkan dan yang menyukakan hati Allah. Itulah kehidupan ekonomi yang berkualitas penuh harkat sejati karena diporosi oleh Ekonomi Allah. Itulah Etika Ekonomi dalam perspektif Etika Kristen. Sangat berbeda dengan teori ekonomi yang bermodal sedikit mungkin namun menginginkan laba yang sebanyak-banyaknya. Itulah ke-khas-an dari Etika Kristen. Ia berpusat dan selalu berdasar pada yang Ilahi.



            Sumber Bacaan :
§  Sulaiman,  F . Bergumul Dalam Pengharapan. Jakarta : BPK. Gunung Mulia 1999.
§  Darmaputera,  Eka.  Pergulatan Kehadiran Kristen Di Indonesia. Jakarta : BPK. Gunung Mulia 2005.
§  Parapak, Jonathan. Pembelajar & Pelayan. Jakarta : Institut Dharma Mahardika 2002.
§  Makalah Kelompok 1










Teori-Teori Ekonomi Menurut Perspektif Etika Kristen
Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Kelompok
Pilihan Minat Etika Ekonomi
Dosen Pengampu : Pdt. Idrus Sasirais M.Th


Oleh Kelompok II :
Hendri
Lida Kristeni
Novita Kristia




 
Logo STT-GKE.jpg









Sekolah Tinggi Teologi
Gereja Kalimantan Evangelis Banjarmasin
April 2013


[1] Jonathan Parapak, Pembelajar & Pelayan, 263
[2] Ibid, 264
[3] Eka Darmaputera, Pergulatan Kehadiran Kristen Di Indonesia, Teks-teks Terpilih Eka Darmaputera, hal 759
[4] Ibid 760
[5] Ferdinan Sulaiman Dkk. Bergumul Dalam Pengharapan : Iman dan Pembangunan Ekonomi, hal 307
[6] Ibid 308
[7] Ibid 314
[8] F. Sulaiman, Bergumul Dalam Pengharapan : Sumbangsih Etika Kristen Dalam EtIka Bisnis, hal 330

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar